Perubahan Iklim vs Jejak Karbon Pembangunan Qatar

SUARADEWAN.com – Diversifikasi dilakukan Qatar untuk mengalihkan perdagangan dari komoditi bahan bakar fosil ke gas alam dan dunia hiburan selama beberapa tahun terakhir.

Langkah Qatar tersebut dibuat untuk memenuhi komitmennya untuk mengurangi emisi karbon hingga 25% pada 2030. Meskipun, dalam pembicaraan perubahan iklim di Paris 2015 mereka tidak membuat pernyataan komitmen tersebut.

Salah satu upaya Qatar mengurangi emisi karbon adalah dengan menangkap dan menyimpan karbon pada fasilitas produksi gas. Teknologi ini belum dilakukan dalam skala besar. Qatar juga menggunakan pembangkit listrik tenaga surya untuk memenuhi 10% kebutuhan energinya.

Qatar juga membangun Doha, ibukotanya, dengan lebih banyak ruang hijau, serta menggunakan aliran angin alami dalam distrik kelas atasnya.

Tetapi tidak ada penjelasan tepat mengenai berkurangnya emisi karbon untuk memenuhi target perubahan iklim tujuh tahunnya tersebut.

Kesangsian upaya serius Qatar untuk mengurangi emisi karbon tampak jelas jika menyimak bagaimana mereka membangun fasilitas internasional untuk Piala Dunia FIFA 2022.

“Mereka tidak dapat melakukan diversifikasi tanpa mengeluarkan uang,” kata Karim Elgendy, seorang sarjana non-residen di Middle East Institute dan juga anggota Chatham House.

“Dan uang itu akan datang dari minyak dan gas. Ini sedikit teka-teki,” tambahnya.

Adapun pembangunan fasilitas olahraga untuk Piala Dunia menelan waktu hingga 12 tahun dan meninggalkan jejak karbon yang sangat besar dalam pembiayaannya.

Tetapi klaim yang terjadi justru sebaliknya, didukung pernyataan bahwa gedung-gedung tersebut menggunakan teknologi ramah lingkungan demi perubahan iklim yang lebih baik. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90