HomeSosial Budaya

Pesan Damai Shinta Abdurahman Wahid di Bulan Suci

Pesan Damai Shinta Abdurahman Wahid di Bulan Suci

PURBALINGGA, SUARADEWAN.com – Serangan teror yang terjadi akhir-akhir ini menjadi kekhawatiran ibu Negara ke-4 Republik Indonesia, Shinta Nuriyah Abdurahman Wahid. Aksi terorisme yang terjadi di Jawa Timur baru-baru ini menjadi ancaman nyata bagi keberagaman yang ada di Indonesia.

Padahal, Indonesia adalah negara majemuk yang tidak dimonopoli oleh sebuah keyakinan, suku, rasa atau golongan saja. Lebih dalam, dia menekankan Indonesia mempunyai harta yang tidak bisa disamai bangsa lain yaitu keberagaman.

Oleh sebab itu, dia berpesan kepada warga Purbalingga untuk senantiasa menjaga persatuan dan kemajemukan serta toleransi.

“Warga Purbalingga harus menjadi contoh keberagaman yang ada di Indonesia. Menjaga kondusifitas di tengah perbedaan adalah hal mutlak yang harus dilakukan seluruh penghuni NKRI,” katanya, saat sahur bersama antara Shinta Nuriyah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga dan warga masyarakat Purbalingga di Pasar Segamas.

Dia pun membawa pesan Ramadan yaitu tentang ajaran kesabaran, kejujuran, keadilan dan tolong menolong yang harus diemban. Di akhir tausiyahnya, Shinta berharap agar warga Purbalingga mengembangkan kearifan dalam kehidupan berbangsa serta menegaskan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.

Baca Juga:  Gelar Tablig Akbar, Front Jihad Islam Yogyakarta angkat Isu Soal Cegah Radikalisme dan NKRI

“NKRI adalah harga mati. Warga Purbalingga harus menjaga kearifan dalam kehidupan berbangsa agar tercipta harmoni di masyarakat,” Shinta menegaskan, seperti dikutip dalam keterangan tertulis yang diterima GATRA, Rabu (23/5).

Semangat toleransi di Purbalingga pun terlihat dari tamu yang tak hanya datang dari umat muslim. Umat agama lain pun turut bergabung dalam acara yang membawa misi kedamaian ini.

Selama ini, bersama suaminya yang juga Presiden ke-4 Indonesia, Almarhum Abdurahman Wahid atau Gus Dur, Shinta dikenal sebagai tokoh pluralis yang mengayomi segala lapisan. Hal itulah yang membuat setiap kali Shinta ataupun jaringan Gusdurian (sebuah komunitas penggemar Gus Dur) menggelar kegiatan dipenuhi oleh tokoh lintas agama, suku maupun golongan.

Baca Juga:  Bahaya Tidur Setelah Santap Sahur

Hal itu dibuktikan kala Shinta berseru “Ada yang dari Katholik, Kristen, Konghucu?” lalu peserta menjawab “Adaaaaaaaaaaaa!”. Dari penggambaran ini cukup membuktikan walaupun acara dibungkus dengan sahur bersama, namun pengunjung tidak hanya datang dari kalangan Muslim.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi atau yang akrab dipanggil Tiwi memaparkan, Purbalingga tetap kondusif meskipun baru-baru ini Indonesia berduka dengan serangkaian aksi teror. Tiwi menandaskan, warga Purbalingga akan tetap solid menjaga NKRI dengan kebhinekaan serta tetap mengedepankan toleransi.

“Warga Purbalingga tetap kondusif dan tidak terpengaruh dengan isu destruktif yang berembus. Warga Purbalingga cukup dewasa untuk menanggapi isu,” ucap Tiwi.

Pertemuan warga Purbalingga dengan Shinta Nuriyah adalah kali ketiga ini terjadi. Sebelumnya di Ramadan tahun 2016 dan 2017, dia juga hadir di kecamatan Kemangkon dan Pendapa Dipokusumo Purbalingga. (gatra.com)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0