Pro Kontra Hilirisasi Batu Bara, Aktivis Yakin Masih Berbahaya

Ridwan Djamaluddin mengatakan produk turunan dari batu bara akan rendah emisi. (foto: antara)

SUARADEWAN.com – Hilirisasi batubara hingga kini masih menuai pro kontra. Program hilirisasi batu bara disebutkan telah direncanakan pemerintah sejak 2021.

Namun para aktivis lingkungan tetap menganggap produk turunan dalam hilirisasi batubara masih menimbulkan emisi yang tinggi dan berdampak negatif bagi lingkungan.

Pemerintah bahkan menuangkan gagasan hilirisasi batu bara dalam UU dan Perpu.

Ditambah lagi pembebasan royalti bagi perusahaan yang bersedia meningkatkan nilai tambah produk batu bara.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ridwan Djamaluddin, justru mengatakan hal yang berlawanan dengan pendapat para aktivis lingkungan.

“Proyek hilirisasi batu bara mengurangi dampak negatif lingkungan dengan menghasilkan produk yang lebih ramah lingkungan,” kata Ridwan Djamaluddin dalam sebuah diskusi mengenai energi.

Pemerintah juga menetapkan peraturan untuk menjaga lingkungan tambang dalam UU No. 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batu bara (UU Minerba).

Dalam UU tersebut diatur mengenai kewajiban perusahaan tambang terhadap lingkungan dan juga sanksi-sanksinya. Ridwan juga mengatakan setiap perusahaan tambang diwajibkan mereklamasi area pasca tambang.

“Kami terus mensosialisasikan ketentuan UU No 3 (UU Minerba), dengan sanksi lebih tegas bagi pelaksanaan kewajiban lingkungan,” tegas Ridwan Djamaluddin. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90