Kolom  

Risalah Sarang untuk Gerombolan Rizieq FPI & Wahabi

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Kamis, 16 Maret 2017, 99 ulama sepuh kumpul di kediaman Kiai Haji Maimoen Zubair di Kompleks Pondok Pesantren al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawat Tengah. Para ulama sepuh yang hadir, di antaranya KH Maimoen Zubair, KH Tholhah Hasan, KH Mustofa Bisri, KH Ma’ruf Amin, dan lain sebagainya.

Menurut keterangan dari Joxzin Jogja (Pasukan Wani Mulyo Jogja Kota), sebanyak 99 ulama sepuh itu, bermusyawarah yang selanjutnya menghasilkan “Risalah Sarang”. Risalah ini sendiri dibacakan oleh Gus Mus sapaan akrab KH. Mustofa Bisri.

“Risalah Sarang berisi 5 poin penting yang memberikan pesan keras kepada Rizieq Shihab FPI dan gerombolannya,” tulis pemilik akun Twitter @joxzin_jogja, Senin (20/3/2017).

Di poin pertama, “Risalah Sarang” menegaskan bahwa NU akan senantiasa mengawal Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Penegasan ini dipandang penting mengingat Rizieq FPI dan gerombolannya membawa konsep NKRI Bersyariah.

“Seolah-olah mengusung NKRI, tapi NKRI yang disampaikan Rizieq FPI, bukan NKRI-Pancasila tapi NKRI Bersyariah,” tegas Joxzin Jogja.

Risalah ini juga menegaskan bahwa antara NKRI dengan Pancasila merupakan satu tarikan nafas yang tidak bisa dipisahkan. Untuk itu, dalam risalah tersebut, isinya mengajak umat Islam dan bangsa Indonesia untuk mengedepankan pemeliharaan negara.

“Pemeliharaan negara dengan menjaga sikap moderat dan bijaksana dalam menanggapi berbagai masalah,” terang Joxzin Jogja kembali.

Selain itu, poin pertama dari “Risalah Sarang” tersebut juga jelas sebagai peringatan para Kiai kepada Rizieq FPI dan gerombolannya. Seperti diketahui, mereka (Rizieq dkk) sering tampil dengan sikap intoleran dengan penggunaan kata-kata yang kasar.

“Peringatan para Kiai pada Rizieq FPI dan gerombolannya yang tidak menjaga akhlak, gunakan cara-cara radikal dan sering memaksakan kehendak,” imbuhnya.

Di poin kedua, “Risalah Sarang” dirasa sangat tepat membidik akar masalah kebangsaan saat ini, yakni penegakan hukum dan kesenjangan ekonomi.

Baca Juga:  Kisah di Balik Borgol dan Rompi Oranye Habib Rizieq Shihab

“Para ulama menyebut lemahnya penegakan hukum dan kesenjangan ekonomi menjadi sumber utama kegelisahan masyarakat dan juga akar radikalisme,” sambungnya.

Untuk itu, menurut Joxzin Jogja, para ulama menghimbau pemerintah untuk menjalankan kebijakan-kebijakan yang lebih efektif guna mengatasi masalah tersebut. Termasuk himbauan ulama agar pemerintah menerapkan kebijakan yang berpihak pada yang lemah.

“Para ulama ingin terwujud pembangunan ekonomi yang lebih merata dan penegakan hukum yang lebih tegas dan adil,” serunya.

Adapun di poin ketiga, “Risalah Sarang” secara khusus menyoroti penyebaran fitnah, kebencian, propaganda radikalisme yang merusak kerukunan melalui media sosial.

“Rupanya para ulama sepuh ini gerah dengan penyebaran berita hoax dan provokatif,” lanjut Joxzin Jogja menerangkan.

Seperti diketahui, Rizieq FPI dan gerombolannya sangat gencar membentuk cyber army dengan menyebarkan kebencian SARA.

“Bahkan yang paling akhir adalah gerombolan FPI memasang spanduk larangan menyolatkan jenazah bagi pendukung kafir,” tegas Joxzin Jogja yakin.

Baginya, peringatan para ulama sepuh ini sejalan dengan strategi gerakan Islam transnasional yang melakukan propaganda melalui media online dan media sosial. Bahwa melalui propaganda inilah para pendukung Khilafah merongrong NKRI dan Pancasila.

“Gerakan Islam transnasional tidak hanya merebut masjid dan sekolah NU tapi juga menyerang sendi-sendi keyakinan kaum Nahdliyin melalui media sosial. NU vs Gerakan Transnasional,” tegasnya.

Joxzin Jogja meyakini bahwa tradisi kultural yang hidup dan berkembang di Nahdliyin mencoba dirobohkan dengan ceramah-ceramah ustad Wahabi-Salafi di media sosial. Para pengekornya sangat mudah menuduh kaum Nahdliyin sebagai kafir, sesat, musyrik dan munafik.

Kaum Nahdliyin dianggap telah menjadi bulan-bulanan serangan ustad Wahabi-Salafi, baik di darat maupun udara, melalui cyber army Wahabi.

“Melalui poin ketiga, Risalah Sarang memperingatkan dengan keras strategi permainan pasukan cyber yang sengaja dibentuk pengikut Wahabi,” pungkasnya menambahi.

Baca Juga:  Indonesia, Freeport dan Persatuan Kita

Di poin keempat “Risalah Sarang”, para ulama sepuh memberika nasehat kepada para pemimpin negara, dan nasehat kepada umat agar senantiasa arif dan bijaksana, serta menomorsatukan kemaslahatan masyarakat dan NKRI.

Nasehat ini sendiri tentu beralasan karena para ulama sepuh prihatin dengan perilaku yang mengatasnamakan imam besar atau pemimpin umat.

“Yang mengaku sebagai ‘imam besar’ justru membawa umat ke jurang. Tidak bisa menjaga sikap sebagai panutan umat,” tegasnya kembali.

Joxzin mengaku bahwa MUI yang awalnya menjadi tempat kebijaksanaan sebagaimana pernah ditunjukkan oleh KH Sahal Mahfud, justru kini dikuasai ulama-ulama dadakan yang suka memprovokasi umat.

“Lihat saja kelakuan Bachtiar Nasir, Dien Syamsudin, Tengku Zulkarnain, dan gerombolan GNPF MUI yang lebih cocok sebagai politikus dibanding ulama,” terangnya mencontohkan.

Belum lagi, lanjut Joxzin Jogja, mendengar perkataan dan melihat perilaku Amien Rais yang sangat jauh dari akhlak para ulama yang harusnya arif dan bijaksana.

“Jadi poin keempat ini adalah pesan keras dari para ulama sepuh bagi politikus yang mengaku-ngaku pemimpin umat,” sambungnya.

Di poin terakhir, yakni poin kelima, “Risalah Sarang” mengusulkan sesuatu yang sangat strategi, yakni forum silaturrahmi di antara seluruh elemen bangsa. Forum ini dipandang relevan guna mencari solusi atas berbagai permasalahan yang ada dalam semangat rekonsiliasi.

“Para ulama sepuh tentu sendih melihat perjalan kita sebagai bangsa. Ibarat kapal besar, ada beberapa (kelompok masyarakat) elemen bangsa yang justru berlomba-lomba membocorkan kapal. Harapan mereka agar kapal NKRI-Pancasila cepat tenggelam diganti kapal NKRI-Bersyariah,” tukasnya menganalogikan.

Melalui “Risalah Sarang” ini, para ulama sepuh dinilai mengajak umat untuk bersatu menjaga kapal besar NKRI-Pancasila. Tujuannya, sehingga kapal besar NKRI-Pancasila bisa berlayar sampai ke tujuan.

“Mari menjadi ABK dan penumpang kapal besar NKRI-Pancasila yang ikut mensukseskan pelayaran,” tutupnya. (ms)

Tinggalkan Balasan

banner 728x90