oleh

Rugikan Negara Hampir 1 Miliar, Guru Besar di Palu Ini Dieksekusi

PALU, SUARADEWAN.com — Seorang Guru Besar Universitas Tadulako (Untad) Palu Profesor Sultan yang juga mantan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Untad, akhirnya dieksekusi oleh Tim Kejaksaan Negeri (Kejari) Palu, di Lapas Petobo, Senin (26/3) sekitar pukul 21.00 Wita.

Profesor Sultan terlibat tindak pidana korupsi anggaran penelitian pada 2014-2015 yang mencoreng dunia pendidikan, meresahkan dunia pendidikan dan memberikan stigma negatif tentang dunia pendidikan, lebih khusus Universitas Tadulako Palu dalam pemberantasan korupsi.

“Sebelumnya kami sudah melayangkan surat panggilan kepada terpidana guna proses eksekusi. Terpidana kooperatif sehingga proses eksekusinya berjalan lancar,” kata Kepala Seksi (Kasi) Tindak Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Palu, Efrivel, kemarin.

Sultan terjerat kasus korupsi saat menjabat Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Tadulako pada 2014-2015. Pada periode tersebut, lembaganya mengelola dana penelitian dengan total Rp 14 miliar.

Baca Juga:  Dekan FH UII: Guru Besar Hukum Tata Negara Kami Diteror!

Baca juga: Professor UI Diperiksa KPK Terkait Kasus Korupsi BLBI

Sultan bersama dengan bendahara pembantu, Fauziah Tendesisi mengutip 5 persen dana dari setiap peneliti yang keseluruhannya Rp 900 juta. Dana tersebut lalu dipakai Sultan membiayai perjalanan ke luar negeri dan dalam negeri serta kegiatan lainnya. Namun, kegiatan tersebut tidak tercantum dalam rencana kerja anggaran pada dua periode itu.

Atas tindakan tersebut, Sultan dinilai menyalahgunakan wewenang yang merugikan keuangan negara sebagaimana diatur dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang diubah dengan UU No 20/2001.

Prof Sultan sendiri dieksekusi setelah turunnya putusan kasasi dari Mahkamah Agung (MA) Nomor: 2002 K/Pid.Sus/2017, yang menghukumnya selama enam tahun penjara, denda Rp 200 juta, subsider 6 bulan kurungan dan membayar uang pengganti Rp 311 juta, subsider 1,6 tahun penjara.

Baca Juga:  Guru Besar Anti Korupsi Kritik DPR yang Minta Masukan ke Napi Koruptor

Isi putusan tersebut lebih berat dari putusan banding yang dikeluarkan Pengadilan Tinggi (PT) Sulteng yang menghukumnya selama 3,6 tahun penjara, denda Rp 50 juta, subsider 2 bulan kurungan serta membayar uang pengganti Rp 311 juta, subsider 8 bulan kurungan. (ant)

Komentar

Berita Lainnya