oleh

“Rumah di Atas Pasir” Pesan Toleransi dari Sleman untuk Indonesia

SLEMAN, SUARADEWAN.com – Pesan toleransi tak melulu dari kata-kata atau melalui tatap muka, pesan toleransi melalui media film, misalnya, lebih efektif menyampaikan pesan makna dari tolerasi itu.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Gerakan Sigap Sosial Kemanusiaan (GASSAK) saat melaunching Film “Rumah di atas Pasir” yang digelar di Banyumili Resto, Sleman, Jogjakarta, Rabu (17/03).

Film Pendek yang menceritakan kesadaran dan pentingnya toleransi di NKRI merupakan inisiasi dari gerakan membangun sisi sosial dan kemanusiaan dalam menjaga keamanan, ketertiban masyarakat.

Hal ini didasari bahwa tidak hanya lembaga negara seperti Polri dan TNI yang aktif menjaga toleransi akan tetapi toleransi juga harus bersuara dari kelompok-kelompok masyarakat yang sadar akan keutuhan bangsa dan negara.

Bersama dengan Aliansi Bela Garuda “Film Rumah Di Atas Pasir” dikonsep awal bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa radikalisme dan intoleransi di masyarakat sangat berbahaya bagi keamanan dan ketertiban masyarakat.

Hal itu, menurut keterangan, juga dapat berpotensi memecahbelah persatuan dan keberagaman bangsa Indonesia. Sehingga dengan ditayangkannya film tersebut secara luas akan mudah diakses oleh masyarakat dan secara tidak langsung memberikan gambaran tentang keberagaman bangsa Indonesia.

Foto (istimewa) Ahmad Fathoni, Ketua Umum GASSAK Jogjakarta

GASSAK meyakini dengan mengumandangkan Toleransi melalui kegiatan-kegiatan berbasis seni dan budaya, terus bergerak mengembangkan pola dan strategi agar isu-isu Toleransi dapat dipahami dan diresapi sehingga menjadi kebiasaan dan kesadaran kolektif dalam berbangsa dan bernegara,” tulis pressrelease yang didapatkan media.

Dijelaskan, Ketua GASSAK Ahmad Fathoni, bahwa keragaman merupakan kekayaan budaya bangsa yang sangat berharga serta menjadi kebanggaan kita dan akan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya dalam pembangunan.

Namun sebaliknya, lanjut Anton, kemajemukan ini dapat menimbulkan kemudhorotan bahkan akan menimbulkan konflik Sosial, suku, ras bahkan agama yang sangat mengancam perpecahan dan integrasi nasional jika kita salah memanajemennya.

“Kehidupan beragama saat ini dalam suasana yang sangat kondusif, ini semua karena peran tokoh/pemuka agama dan majlis agama dari masing-masing agama serta kita tidak bisa menutup mata besarnya peran TNI POLRI dalam memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat,” pungkasnya.

Menurut Anton, hal ini agar setiap pemeluk agama, suku, ras dan adat istiadat pada masing-masing daerah dapat menjalankan ajaran agamanya, adat istiadatnya dan mampu mambawa daerah/suku/rasnya dengan sebaik-baiknya.

Baca Juga:  Aliansi Bela Garuda Tolak Kedatangan Ustad ‘Karbitan’ Felix Siauw ke Yogyakarta

“Sehingga akan tumbuh rasa persaudaraan diantara sesama dan tidak mempertentangkan perbedaan karena pada dasarnya dari masing-masing agama, suku, ras dan adat istiadat serta kebudayaan mengajarkan tentang kebaikan dan perdamaian,” katanya.

Memupuk Rasa Toleransi Sejak Dini

Ketua Umum GASSAK Ahmad Fathoni menjelaskan bahwa ide pembuatan film ini berawal dari semangat dan kepedulian kita terhadap toleransi. Baik perbedaan agama, suku, ras dan perbedaan pendapat dan lain sebagainya.

“Dari rekan-rekan yang diwadahi oleh Aliansi Bela Garuda (ABG) dan beberapa elemen termasuk GASSAK yang masuk dalam salah satu elemennya ABG mempunyai visi – misi yang sama yang kemudian membuat sesuatu sosialisasi mengajak masyarakat melalui pesan dalam film,” terang Anton dalam wawancaranya.

Menurut Anton, film tersebut memuat pesan, salah satunya adalah membangun dan memupuk yang namanya toleransi. Karena menurut Anton, dalam tolerasi itu kalau kita tidak mendasarikannya nanti akan muncul yang namanya anarkis seperti radikalisme.

Radikalisme, lanjutnya, itu munculnya dari intoleran dalam beragama. “Sehingga GASSAK tergugah untuk menyempaikan pesan toleransi kepada masyarakat,” tandasnya.

Ia juga memberikan apresiasi yang tinggi atas peran besar TNI-Polri dalam menjaga Kamtibmas menjadi lebih kondusif lagi. Karena, menurutnya TNI-Polri adalah Garda terdepan menjaga ketertiban bangsa.

Selain itu, Anton juga menyarankan agar kita semua elemen mempunyai tanggungjawab menjaga toleransi. Hal ini, menurutnya, tidak bisa semata-mata kita serahkan pada guru atau orangtua untuk melakukan peran tanggungjawab dalam memupuk toleransi.

“Tanggungjawab kita bersama, kalau kita hanya menyerahkan kepada orangtua kepada guru semata nantinya kalau kita tidak saling akan mengingatkan nanti tidak akan muncul melestarikan budaya, melestarikan kearifan lokal, yang nantinya akan menjadi bentuk boomerang juga jika kita berkukuh pada kearifan lokal,” katanya lagi.

Menurut Anton, kita sebagai masyarakat yang ada di NKRI pastinya harus mengangkat kebhinnekaan ini. “Suatu kebanggan kita bangsa Indonesia adalah perbedaan suku perbedaan adat istiadat dan lain-lainnya,” ucapnya.

Sementara, lanjutnya, mengenalkan isu toleransi itu harusnya sudah sejak dini, sejak anak-anak itu sudah memiliki rasa. Mulai dari usia ketika dia dapat mempunyai rasa, itu sudah harus kita tanamkan yang namanya toleransi.

Baca Juga:  Aliansi Bela Garuda Tanggapi Pernyataan Sikap YLBHI terkait Perppu Ormas

“Perbedaan gender saja itu sudah ada toleransi di dalamnya. Tolerasi ibu dan anak, toleransi dengan teman-temannya, mulai dari hal kecil seperti itu sudah harus kita menanamkannya. Sehingga pendidikan toleransi pada anak itu sejak pendidikan dini. Tapi melalui film ini anak-anak haru didamping oleh orangtua, orang dewasa kan sudah bisa menilai seperti apa film ini bentuk toleransinya seperti apa,” kata Anton.

Dikatakannya, Anton, melalui silaturahmi ini GASSAK mengajak seluruh komponen masyarakat untuk selalu menghilangkan rasa curiga mencurigai antara satu dengan yang lain serta agar dapat hidup ditengah-tengah masyarakat.

“Hilangkan rasa mencurigai ditengah masyarakat yang berbeda suku, agama, ras, budaya dan adat istiadat untuk selalu berdampingan dalam suatu keadaan yang rukun, dengan kerukunan kita dapat mengatasi semua permasalahan secara arif dan bijaksana,” pungkas Anton.

GASSAK percaya kerukunan dan toleransi antar sesama merupakan sumbangan besar umat dalam menegakkan persatuan dan kesatuan bangsa, serta lajunya pembangunan. Untuk itu penekanan kerukunan hidup dan toleransi antar sesama hendaknya diletakkan pada upaya terbentuknya kerukunan dinamis, produktif, otentik yang bercorak toleransi positif dan berwawasan nasional.

“Perbedaan faham, pendapat dan pemikiran jangan membuat kita pecah tetapi hal itu merupakan rahmat bila kita dapat menggalinya, dan masalah keyakinan adalah persolan yang tidak dapat dipaksakan dan merupakan Hak Asasi Manusia yang paling asasi yang harus dihargai,” sambungnya.

Untuk itu, GASSAK akan selalu mensukseskan dan mendukung pembangunan yang akan datang serta dalam rangka pro aktif dengan TNI POLRI dalam menjaga KAMTIBMAS NKRI untuk selalu dalam suasana kondusif, aman dan terkendali.

“Dengan mengucap “Toleransi Harga Mati NKRI” maka pemutaran Film Pendek dengan judul “Rumah Di Atas Pasir” kami persembahkan,” tutup Anton. (**)

Komentar

Berita Lainnya