HomeDaerahKalimantan

Rusmadi Kah Penyembuh Luka Lingkungan Kaltim?

Rusmadi Kah Penyembuh Luka Lingkungan Kaltim?

Oleh: Dr. Ir. Sunarto Sastrowardojo, M.Arch

PECUNDANG lingkungan akan mengatakan: alam menyembuhkan lukanya sendiri. Ekosistem akan segera menutup lubang luka dan manusia sebagai kaitan ekologis sama sekali tidak tau menahu tentang pemulihan alam.

Sebetulnya sulit juga menentukan mana pecundang dan pahlawan lingkungan. Pecundang dengan terang terangan merusak, pahlawan bertudung pelestarian ternyata juga berbuntut pekerjaan manipulatif. Mengeluarkan CSR ratusan miliar, namun abai akan sejumlah kewajiban merehabilitasi lingkungan. Lalu hasil karyanya minta untuk disebut berkelanjutan.

Polusi udara terus meningkatkan kandungan polutan di beberapa kawasan tertentu yang bisa menyebabkan orang sulit bernafas pada masa mendatang. Menjelang tahun 2050, mengambil nafas dalam dalam di Tiongkok Timur, India Utara, Timur Tengah, dan Afrika Utara mungkin bisa berbahaya bagi kesehatan. Ini disimpulkan oleh sebuah penelitian baru, kecuali kalau negara-negara di dunia bertindak dari sekarang untuk mengatasi polusi udara.

Tahun 2011 lalu, usai seminar lingkungan di Aichach, Bavaria, Jerman, saya ngobrol kiri kanan tentang kualitas lingkungan udara yang kian buruk dengan Andrea Pozzer seorang doktor kimia dari Lembaga Kimia Max Planck di Jerman. Kami sengaja pergi ke Kota kecil Bautzen di negara bagian Sachsen, kurang lebih 42 kilometer utara Jerman. Pozzer berdalih, tak layak kami ngobrol di kota yang polutannya tinggi, “sementara kita masih diperlukan dunia,” katanya.

Jerman dan lima negara anggota Eropa lainnya memang digugat oleh Komisi Lingkungan Uni Eropa ke pengadilan karena melanggar aturan pembatasan tingkat pencemaran udara.

Uni Eropa (UE) mengeluarkan aturan pembatasan emisi untuk partikel PM10 dan nitrogen dioksida (NO2) pada tahun 2010. Tetapi di banyak negara anggota – terutama di kota-kota besar – tingkat polusi udara secara teratur berada jauh di atas batas ini. Kalimantan Timur memiliki potensi itu jika Industri hilir dan eksploitasi sumberdaya alam di hulu tidak dikendalikan.

Saya ndak paham apa katanya, waktu itu, sarkasme halus, karena kami jadi makhluk pengurus lingkungan dan karenanya kami diperlukan oleh dunia, atau semata mata dia menyindir negeri indahku Indonesia yang mulai tercemar, tanah udara dan airnya.

“Kita, kami, kalian sangat membutuhkan tindakan yang sungguh-sungguh dan hukum yang efektif dan penting untuk mencegah memburuknya kualitas udara secara cepat,” katanya waktu itu. Pozzer ini menjabat direktur di lembaganya dan surat elektronik terakhir yang dikirimkan sebelas hari lalu menanyakan stabilitas politik dan bisnis di Kalimantan Timur. Ya Kaltim.

“Stabilitas politik, perdagangan, PDRB, lingkungan dan lima polutan utama Sulfur dioksida, karbon monoksida, nitrogen dioksida, ozon, dan zat partikulat, yang besarnya kurang dari dari 2,5 mikrometer, harus dihilangkan dari bumi Kalimantan Timur dan tidak mungkin terjadi stabilitas jika pemimpinnya tidak punya ruh lingkungan,” katanya.

Lalu saya mencoba membuat kalkulasi kasar, peta politik Kalimantan Timur. Siapa yang bakal dipasrahi Tuhan menjadi penjaga pulau yang dulu dijuluki Jamrut Katulistiwa ini. Mungkin akan saya reply ke Pozzer agar menjadi catatan dia bahwa di Kaltim sudah lahir pemimpin, Jawa, bernama Rusmadi yang sempat disangsikan ke Jawaan-nya itu.

Saya juga tidak tau dan tidak akan pernah tau apakah Wongso, kalau dalam tradisi kami orang Jawa nama belakang adalah nunggak semi patrilinier atau bin dalam Islam, Rusmadi akan menjadi pendekar atau pecundang lingkungan. Hanya Allah yang mengetahuinya.

Tapi sebagai mahkluk sosial, saya kerap bicara di kalangan mashasiswa bimbingan saya, bahwa manusia wajib ikhtiar. Mencari pemimpin pun harus ikhtiar agar tak salah menentukan-baca memilih- nasib Kalimantan Timur ini, minimal lima tahun ke depan.

Akan tetapi dalam hal memilih taqdir, pasangan calon nomor 4 yang didampingi polisi ini lebih greget dan berkesungguhan, mundur dari jabatan struktural, dari ASN. Bahkan jika toh harus kembali ke kampus Universitas Mulawarman untuk mengajar lagi, pangkatnya sama dengan saya.

Saya punya sejumlah daftar di antaranya hal hal yang bakal dilakukan oleh Rusmadi, menata lingkungan yang porak-poranda, menata kembali fungsi hutan sosial yang saat ini acapkali memarjinalkan masyarakat sekitarnya. Lalu tekad menutup lubang tambang dan menambah luasan pertanian dalam arti luas.

Untuk itu, polutan-polutan yang menyebabkan pemasan global disebut gas-gas rumah kaca, seperti karbon dioksida, metan, ozon dan gas-gas yang lebih berbahaya bagi kesehatan manusia harus dikikis dan ini butuh pionir, gubernur yang punya pijakan kaki kuat dan punya pucuk tangguh hingga ke pemerintahan di pusat.

Tanpa itu, Rusmadi hanya akan dicatat sebagai sosok gubernur yang mengalahkan tiga lawannya, 27 Juni 2018 mendatang. Bukan gubernur yang mempercepat penyembuhan luka alam.

sumber: 4TimMedia#

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: