HomePolitik

RUU Pemilu Hanya Permainan Kata-Kata untuk Menipu Masyarakat

RUU Pemilu Hanya Permainan Kata-Kata untuk Menipu Masyarakat

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Menurut Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti, Rancangan Undang-Undang Pemilu hanya sekedar permainan kata-kata yang bertujuan untuk menipu rakyat. Pasalnya, menurut Ray, sistem Pemilu terbuka terbatas yang diusulkan saat ini sebenarnya sama dengan sistem proporsional tertutup yang sudah pernah diterapkan di Indonesia saat Pemilu tahun 1999 dan 2004 dengan sedikit varian.

“Permainan kata-kata yang cenderung menipu masyarakat. Kenapa menipu masyarakat? Karena seolah-olah ada yang baru dengan adopsi kata terbuka padahal tidak ada sama sekali peluang keterbukaan di dalam itu,” kata Ray.

Menurut mantan aktivis ini, sistem pemilu terbuka tertutup pada prinsipnya sama dengan yang dianut pada tahun 2004 dan 2009. Saat itu pemilih memilih partai politik, lalu selanjutnya partai yang akan mendistribusikan suara ke calon anggota legislatif.

Menurut Ray, banyak pihak yang menolak sistem pemilu tahun 2009, termasuk diantaranya adalah orang-orang yang saat ini duduk menjabat sebagai anggota DPR RI di Senayan. “Faktanya (Pemilu) 2009 itu kita tidak mau. Kita semua menolak. Bahkan anggota DPR yang sekarang ini pun awalnya menolak sistem itu. Politisi di Indonesia kalau sudah berkuasa tidak mau diganggu gugat,” tukas Ray.

Kritik mengenai RUU Pemilu ini penting untuk dilakukan, sebab menurut Ray masyarakat masih menginginkan calon anggota legislatif yang akan mewakili mereka di parlemen itu dipilih secara terbuka dan transparan.

Ray mengutip data hasil survei Perkumpulan Untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) pada November dan Desember 2016, yang menunjukkan bahwa sebanyak 86 persen responden menginginkan sistem proporsional terbuka.

“Artinya apa, sepanjang reformasi ini dengan temuan yang baru yang ditemukan kawan Perludem memperteguh publik kita sebetulnya inginnya yang kemarin (sistem) 2014. Ngapain diganti?” pungkas Ray. (ZA)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: