HomeRagamOlahraga

Sejumlah Momen Paling Dikenang dari Olimpiade Tokyo 2020

Sejumlah Momen Paling Dikenang dari Olimpiade Tokyo 2020Petenis Jepang Naomi Osaka membawa obor Olimpiade untuk menyalakan kaldron Olimpiade Tokyo 2020 di Olympic Stadium, Tokyo, Jepang, 23 Juli 2021.

SUARADEWAN.com — Sejak awal Olimpiade Tokyo 2020 adalah Olimpiade yang akan dikenang selamanya. Dengan padamnya api Olimpiade pada upacara penutupan Minggu malam kemarin, Olimpiade Tokyo 2020 resmi berakhir.

Begitu banyak teladan mengenai keberanian, keterampilan luar biasa, sportivitas dan emosi, sesuai dengan moto Olimpiade yang baru: Citius, Altius, Fortius – Together, atau “Lebih Cepat, Lebih Tinggi, Lebih Kuat – Bersama”

Dan adalah sembilan momen terbaik Tokyo 2020 pilihan laman Olympics.com.

1. Simone Biles mundur tetapi lalu masuk lagi gelanggang untuk memenangkan perunggu

Pesenam Amerika Serikat Simone Biles akhirnya melanjutkan lomba setelah buka-bukan mengalami masalah mental, untuk menyabet medali perunggu balok keseimbangan putri di Ariake Gymnastics Centre, Tokyo, Jepang, 3 Agustus 2021.
(REUTERS/MIKE BLAKE)

Salah satu ‘wajah’ besar kompetisi senam Tokyo 2020 adalah Simone Biles, pesenam Amerika Serikat yang paling banyak mendapatkan medali.

Namun, gadis berusia 24 tahun itu mengundurkan diri dari final beregu setelah nomor pertamanya meja lompat, karena tak ingin membahayakan timnya.

Dia kemudian mundur dari tiga final nomor alat perseorangan dalam rangka fokus ke pada kesehatan mentalnya. Keputusan ini mendapat dukungan luas dari para penggemar dan sesama atlet dari seluruh dunia.

Namun lewat penampilan mental yang tabal dan keberanian yang luar biasa, Biles masuk lagi kompetisi untuk ambil bagian dalam final balok keseimbangan guna merebut medali perunggu yang merupakan medali Olimpiade ketujuh selama karirnya.

“(Perunggu ini) lebih berarti dari semua medali emas karena saya telah melalui begitu banyak hal selama lima tahun terakhir dan pekan terakhir saat saya bahkan berada di sini,” kata dia. “Pada akhirnya kita bukan cuma hiburan. Kita juga manusia.”

2. Elaine Thompson-Herah mencetak sejarah Olimpiade

Sprinter Jamaika Elaine Thompson-Herah saat memenangkan lomba 200m putri di Olympic Stadium, Tokyo, Jepang, 3 Agustus 2021.

Sebelum Tokyo 2020, tidak ada perempuan yang berhasil mempertahankan gelar juara lari 100m dan 200m putri berturut-turut. Namun Elaine Thompson-Herah bukan atlet sembarangan.

Sprinter Jamaika yang memenangkan emas kedua nomor itu dalam Olimpiade Rio 2016 itu menyabet medali emas keduanya dalam nomor 100m pada 31 Juli dengan catatan 10,61 detik sehingga memecahkan rekor Olimpiade 10,62 detik yang dipegang ikon Amerika Serikat Florence Griffith Joyner yang sudah 33 tahun tak terpecahkan yang tercipta di Seoul 1988. Catatan waktu itu juga melesatkan dia ke tempat kedua dalam daftar pelari tercepat kedua sepanjang masa di belakang Griffith Joyner.

Baca Juga:  Dari Skandal London dan Torehkan Sejumlah Rekor, Greysia Polii: Ini Hanya Bonus dari Tuhan

Tiga hari kemudian, Thompson-Herah kembali mengguncang Stadion Olimpiade ketika merebut medali emas 200m putri dengan menorehkan waktu 21,53 detik yang hanya 0,19 detik lebih lama dari rekor dunia yang juga rekor Olimpiade yang juga dipegang Florence Grifith Joyner.

Saat menuju ke sana, Thompson-Herah mengukuhkan statusnya sebagai ratu sprint tak tergoyahkan dengan menjadi wanita pertama yang memenangkan dua emas 100 dan 200m putri Olimpiade dua kali berturut-turut.

“Ya tuhan sungguh hebat yang saya alami hari ini. Bahwa saya bisa menuntaskan emas ganda lagi. Saya tak percaya ini,” kata dia.

3. Mutaz Barshim dan Gianmarco Tamberi memutuskan berbagi emas lompat tinggi

Juara bersama lompat tinggi putra Olimpiade Tokyo 2020; atlet Qatar Mutaz Essa Barshim (kanan) dan atlet Italia Gianmarco Tamberi memamerkan medali emas nomor ini yang mereka raih bersama di National Stadium, Tokyo, Jepang, 2 Agustus 2021.
(REUTERS/Yohei Osada/AFLO/Yohei Osada)

Pada akhir final lompat tinggi Olimpiade yang dramatis, atlet Qatar Mutaz Barshim dan atlet Italia Gianmarco Tamberi memilih berbagi medali emas ketimbang melanjutkan dengan lompatan guna menentukan siapa pemenang nomor ini.

Kedua atlet, juga atlet Belarus Maksim Nedasekau, sebelumnya sudah membuat lompatan setinggi 2,37 meter, tetapi saat mistar dinaikkan ke 2,39 meter sehingga menjadi rekor Olimpiade baru jika berhasil dilewati, tak seorang pun dari ketiga pelompat tinggi putra itu yang mampu melewati tinggi lompatan tersebut.

Jadi, alih-alih meneruskan lomba, Barshim bertanya kepada seorang ofisial, ‘Bisakah kita punya dua pemenang emas?’. Ofisial itu setuju, dan Tamberi melompat memeluk Barshim dalam suasana gembira sejati begitu mengetahui bahwa dia dan teman baiknya itu dinobatkan sebagai juara bersama. Nedasekau sendiri dianugerahi medali perunggu.

Baca Juga:  Skandal Olimpiade; Marion Jones 'from hero to zero'

4. Emas atlet Italia yang luar biasa

Atlet Italia Lamont Marcell Jacobs finis pertama untuk memenangkan medali emas nomor bergengsi sprint 100m putra Olimpiade Tokyo 2020 di Olympic Stadium, Tokyo, 1 Agustus 2021.
(REUTERS/FABRIZIO BENSCH)

Bisa dibilang Italia menikmati Olimpiade yang luar biasa di Tokyo 2020 setelah mengumpulkan 40 medali atau empat medali lebih banyak dari total rekor sebelumnya yang dicapai dalam Olimpiade Los Angeles 1932 dan Roma 1960, termasuk tiga medali emas yang luar biasa dari atletik di Stadion Olimpiade.

Yang pertama dari tiga emas itu adalah emas lompat tinggi yang diraih Tamberi bersama dengan Barshim itu.

Beberapa saat kemudian, Marcell Jacobs menorehkan sejarah dengan tidak hanya menjadi atlet pertama yang mewakili Italia yang lolos ke final sprint 100 meter putra, tetapi juga menjadi yang pertama meraih emas dalam nomor ini.

Salah satu adegan yang akan kekal dikenang dalam Olimpiade ini adalah pemandangan Jacobs menembus garis finis untuk memecahkan rekor nasional dan Eropa 9,80 detik dan dia langsung dirangkul Tamberi yang sudah menunggunya yang sudah menyelimuti tubuhnya dengan triwarna bendera Italia.

Tapi bukan hanya di situ sejarah diciptakan Italia.

Pada Jumat 6 Agustus, tim estafet 4x100m putra kembali menciptakan sejarah dengan memenangkan emas pertama Italia dari nomor ini di mana salah satu pelari mereka Filippo Tortu menyalip sprinter Britania Nethaneel Mitchell-Blake untuk memenangkan emas dalam selisih seperseratus detik.

5. Emma McKeon menyamai rekor medali Olimpiade terbanyak yang diraih atlet putri

Perenang Australia Emma McKeon saat berakhir dalam estafet 4x100m putri di Aquatics Centre – Tokyo, Jepang, 1 Agustus 2021. (REUTERS/CLODAGH KILCOYNE)

Pada Olimpiade Helsinki 1952, Mariya Gorokhovskaya dari bekas Uni Soviet menorehkan rekor dengan memenangkan tujuh medali dalam kompetisi senam artistik (termasuk emas beregu dan semua alat). Perolehan medali Gorokhovskaya adalah yang terbanyak yang bisa diraih seorang atlet putri sepanjang sejarah Olimpiade, bertahan sampai hari ini, hampir 60 tahun kemudian.

Namun kali ini berbeda karena Gorokhovskaya tidak lagi sendirian di buku rekor itu.

Emma McKeon menggenggam Olimpiade untuk dikenang di Tokyo setelah meraih medali emas gaya bebas 50m seraya mencetak rekor Olimpiade baru, gaya bebas 100m, estafet gaya bebas 4x100m, dan estafet gaya ganti 4x100m untuk melengkapi tiga medali perunggu yang diraihnya dari nomor 100m gaya kupu-kupu, estafet 4x200m gaya bebas, dan estafet 4x100m gaya campuran.

Dalam perjalanan mencatat sejarah itu, McKeon menjadi atlet Olimpiade paling sukses di Australia dan membuat sejarah baru dengan menjadi perenang putri pertama yang memenangkan tujuh medali dalam satu Olimpiade bersama dengan Michael Phelps, Mark Spitz dan Matt Biondi yang meraih tujuh atau lebih medali.

Tidak itu saja McKeon juga dengan demikian menjadi atlet yang paling banyak mendapat medali dalam Olimpiade Tokyo 2020.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0