HomeHankam

Seruan Perdamaian Jokowi di Titik Nol Peradaban Islam

Seruan Perdamaian Jokowi di Titik Nol Peradaban Islam

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) melontarkan seruan perdamaian, terutama ketika pesta demokrasi seperti pemilihan kepada daerah (Pilkada) berlangsung. Hal ini ia serukan tepat di Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam di Barus, Tapanuli Tengah, Sumetera Utara, Jumat (24/3/2017).

Seruan ini, menurut Jokowi, tak lain untuk menjaga perdamaian antarumat beragama. Ia pun berharap agar kerukunan tetap terjaga di Indonesia sebagai negara besar yang terbentuk dari 34 provinsi, 516 kabupaten/kota, 714 suku, dan 1100 bahasa lokal.

“Saya titip utamanya para ulama, agar disebarkan, diingatkan, dipahamkan kalau kita beragam. Ini anugerah Allah bagi Indonesia,” seru Jokowi setelah meresmikan Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam.

Baca Juga:  Presiden Jokowi Tanggapi Aksi 313

Terkait dengan peresmian Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam ini, Sekretaris Daerah Kabupaten Tapanulis Tengah Hendri Susanto Tobing mengungkapkan bahwa peresmian tersebut merupakan upaya pemerintah untuk menunjukkan Barus sebagai salah satu lokasi yang berperan dalam penyebaran agama Islam di Indonesia.

“Kawasan Barus dulunya merupakan sebuah bandar besar di Indonesia. Sehingga, banyak negara, terutama Timur Tengah pernah berlabuh di Barus untuk berdagang sekaligus menyebarkan agama Islam,” terangnya.

Tugu Titik Nol ini sendiri merupakan monumen berupa bola dunia yang ditopang dengan tiga tiang penyangga. Monumen tersebut dinilai mengusung filosofi Adat Dalihan Na Tolu.

Baca Juga:  Peringati Hari Lahir Pancasila ke-72, Presiden Jokowi: Kodrat Bangsa adalah Keberagaman

“Dalihan No Tolu memiliki arti tungku berkaki tiga. Tiga kaki itu merepresentasikan tiga esensi masyarakat Batak, yakni Somba Marhula-hula (Tulang), Elek Marboru (Boru), dan Manat Mardogan Tubu (Semarga),” imbuhnya.

Jokowi pun berharap simbol itu bisa menjadi pegangan falsafah seluruh masyarakat Indonesia. Ia ingin jika kedamaian antarsuku, agama, dan ras tetap dirawat dan tak rusak hanya karena kepentingan politik semata.

“(Perpecahan) harus dihindari. Jangan dicampuradukkan politik dan agama. Dipisah betul. Sehingga rakyat tahu mana agama, mana politik, dipisah,” lanjut Jokowi menegasan. (ms)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: