HomeDPR RI

Sindir Kerja KPK, Fahri Hamzah: OTT Recehan

Sindir Kerja KPK, Fahri Hamzah: OTT Recehan

JAKARTA, SUARADEWAN.com – “Semakin #OTTrecehan, semakin sadar kita bahwa ini hanya pengalihan. Kita memang terbiasa ditipu. Beradab-abad.” Demikian Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah berkicau di akun twitter pribadinya @Fahrihamzah, Selasa (20/6/2017).

Fahri menilia bahwa selama KPK bekerja, yakni kurang lebih sudah 15 tahun, tindak pidana korupsi tetap saja banyak. Hal inilah yang cukup disayangkan, karena kesibukan KPK dalam mengoperasikan kerja-kerjanya, justru seolah menambah tindak korupsi itu sendiri.

“Negara kita punya lembaga audit. Hasil temuan bertrilyun-triliun. Itu uang negara. #OTTrecehan bukan uang negara,” timpalnya.

Sementara, lanjut Fahri, auditor terus mengeluh. Dipertanyakan kenapa temua mereka justru tidak menjadi alat bukti korupsi.

“AuditBPK vs #OTTrecehan,” nilainya.

Apalagi kalau KPK mau advokasi SD/ESDM, tambahnya, ini contohnya temuan di PT Freeport (melampirkan “Temua Pelanggaran Lingkungan; Hasil Pemeriksaan PDTT PTFI). Nilai kerusakan lingkungan hampir 200 triliun.

Baca Juga:  Supres Revisi UU KPK Terbit, Ketua KPK: Gerakan Antikorupsi dalam Kondisi Mengkhawatirkan

“Pertanyaannya, kenapa hasil audit ber-TT kerugian negara susah payah ini gak jadi temuan korupsi? Lalu belok cari THR idulfitri?” pungkasnya.

Menurut Fahri, OTT dalam terminologi hukum berbeda dengan OTT dalam terminologi KPK. Dan itulah yang kemudian menjelaskan kenapa KPK gandrung OTT karena tidak ada dasarnya dalam hukum acara.

“Suka-suka aja, kadang berdasarkan pesanan,” lanjutnya.

Fahri pun kembali mempertanyakan, kenapa selama 15 tahun KPK berdiri dan bekerja ini justru OTT makin banyak? Bukankah ini pengakuan korupsi tambah banyak? Lalu sukses KPK di mana?

“Karena sukses menurut KPK beda dengan kosakata umum. Menurut KPK, sukses itu sama dengan sibuk,” sindir Fahri.

Baca Juga:  Fahri Hamzah Tak Bisa Puaskan Hasrat Tsamara Amany

Jadi, lanjut Fahri, KPK merasa sukses kalau setiap hari mengadakan konferensi pers.

OTT, OTT, OTT, makin sibuk makin baik. Iya, kan?” sindirnya kembali.

Inilah yang sangat disayangkan oleh Fahri. Karena baginya, KPK memaknai sukses adalah sibuk karena masalah tambah banyak, dan gagal dimaknai sebagai tidak sibuk karena masalah selesai.

“KPK tidak menisbatkan sukses pada penyelesaian masalah, tapi pada bertambah rumit dan makin sulit di atasi,” tandasnya.

Karenanya, audit sebagai standar penegakan sistem tidak mau diikuti. Sebab KPK, di mata Fahri, tak suka langkah terukur.

“(Lembaga semacam) ini yang mau periksa DPR? Kenapa sih gak terbuka aja? Jelasin aja,” tutupnya. (ms)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0