Syaikh Awad Karim Bercerita tentang Tasawwuf dan Thoriqoh Qodiriyah

SUARADEWAN.com – Dalam acara Daurah Ilmiah dan Pengukuhan Pengurus Pusat Ikhwan Thoriqoh Qodiriyah Arokiyah (PP ITQA) Indonesia yang berlangsung di Masjid Istiqlal, Minggu (25/12/22), Syaikh Awad Karim Al-Aqli Al-Maliki menyampaikan tentang pentingnya  tasawwuf dan sejarah Thoriqoh Qodiriyah.

Ust Misbakhul Ula bertugas sebagai penerjemah dalam acara tersebut. Ia merupakan alumni Sudan dan pengajar di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok.

Syaikh memaparkan tentang pengertian tasawwuf dan sejarah Thoriqoh Qodiriyah.

“Tasawwuf adalah manhaj suluki taabbudi (jalan menuju kesempurnaan batin) yang berdasar pada Ahl as-Sunnah,” paparnya di hadapan Ikhwan Thoriqoh Qodiriyah.

Kemudian ia mengutip perkataan tokoh sufi, Imam Junaid al-Baghdadi: Thoriqoh kita diperkuat dengan kitab dan sunnah.

“Tasawwuf sudah ada sejak zaman nabi.  Bukan hal baru.  Tasawwuf adalah bagaimana beribadah dengan kualitas sebaik-baiknya, ikhlas kepada allah, thoriqoh juga merupakan akhlak yang baik,” jelasnya.

Kemudian ia menceritakan tentang sosok Syaikh Abdul Qodir al-Jailani, yang mana Thoriqoh Qodiriyah dinisbahkan kepadanya.

“Qodiriyah dinisbahkan kepada Syaikh Abdul Qodir al-Jailani, beliau ahli hadist, menguasai mazhab Syafii dan Hanbali.  Diakui kewaliannya oleh mayoritas ulama. Karomahnya mutawatir menurut Ibnu Hajar al-Haitami dan Ibnu Taimiyah, beliau juga Ahlul bait,” cerita Syaikh Awad.

Ia juga mengutip perkataan Syaikh Abdul Qodir al-Jailani: “Semua pintu untuk menuju Allah penuh dengan manusia, kecuali pintu kehinaan di hadapan Allah.  Itu yang aku pilih.”

Maksudnya adalah, banyak jalan menuju Allah yang sudah ditempuh oleh orang-orang sholeh. Oleh karenanya, Syaikh Abdul Qodir al-Jailani memilih jalan yang tak banyak dilalui orang,  yaitu dengan menghinakan diri di hadapan Allah.

“Thoriqhoh Qodiriyah dibawa oleh Syaikh Tajuddin ke Sudan. Syaikh Abdullah al-Araki merupakan salah satu muridnya, kemudian thoriqoh ini dinisbahkan kepadanya, menjadi Qodiriyah Arokiyah,” cerita Syaikh Awad.

“Thoriqoh Qodiriyah dirintis oleh kabilah Aroky, nasabnya sampai ke Sayyidina Husein, cucu Rosulullah. Dalam hal Akidah mengikuti Imam Asy’ari, dalam fikih mengikuti Imam Malik bin Anas. Kabilah Aroky merupakan penyebar Islam pertama di Sudan, pembawa mazhab fikih Maliki dan  akidah Asy’ari. Hampir seluruh pengikut Qodiriyah di Sudan, sanadnya bersmabung kepada Kabilah Arokiyah” paparnya.

“Thariqoh ini berkembang 600 tahun lalu di Sudan sampai zaman Syaikh Abdullah Rayah, Guru saya dan juga guru Syaikh Hilmi (Mursyid Thoriqoh Qodiriyah Indonesia). Sebelumnya kami tidak saling kenal, tapi dikenalkan oleh Syaikh Abdullah untuk menyebarkan Thoriqoh ini di Indonesia.

“Pada suatu hari saya dan Syaikh Abdullah bin Ahmad Rayah, Khalifah Thoriqoh Qodiriyah Sudan waktu itu, diundang olah Habib Luthfi Pekalongan untuk menghadiri kongres sufi.  Syaikh Abdullah menulis dua surat, untuk Syaikh Hilmi dan Habib Lutfi, yaitu tentang pengakuan tentang ke-mursyidan Syaikh Hilmi, hingga ia diutus mewakilinya untuk menghadiri kongres tersebut,” cerita Syaikh Awad.

“Pesan Syaikh Abdullah bin Ahmad Rayah,  marilah berpegang kepada akidah Ahl as-Sunnah wal Jama’ah.  Berpeganglah dalam fikih kepada mazhab negara, kalau Indonesia, berarti ikut mazhab Syafii,” sambungnya.

“Marilah hapalkan al-Quran dan jaga kualitas bacaan al-Qur’an, pelajari ilmu tafsir, bahasa arab, hadist dll. Ahbab Thoriqoh,  hendaknya jangan meninggalkan asas thoriqoh di mana saja. Mari bergandengan tangan untuk menyebarkan thoriqoh ini,” ajaknya.

“Jangan lupakan asal Thoriqoh ini,  Sudan,  paling tidak 5 tahun sekali berkunjung ke Sudan,” sambungnya.

“Mari bekali diri dengan ilmu.  Berusaha untuk makan yang halal,  makanlah dengan hasil keringat sendiri. Langgengkan berjemaah tepat waktu. Jangan lepas dari majlis ilmu, zikir serta berusaha yang halal; perbanyak zikir dan baca al-Quran atau salawat.” Itu merupakan pesan Syaikh Abdullah Rayah, kata Syaikh  Awad.

“Hormati thoriqoh lain, namun jangan pindah-pindah thoriqoh. Seorang salik hendakanya memilih satu jalan. Orang yang pindah-pindah thoriqoh seperti orang yang menggali banyak sumur, tiap sampai satu meter pindah, terus seperti itu, hingga mati tidak akan sampai pada tujuan,” pesannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90