HomeDaerahNusa Tenggara

Terbitkan Rekomendasi Tanpa Cross Check, Camat Rotsel Tidak Paham UU Desa

Terbitkan Rekomendasi Tanpa Cross Check, Camat Rotsel Tidak Paham UU Desa

ROTE NDAO, SUARADEWAN.com — Persoalan Tindakan sewenang-wenang oknum Kepala Desa di Kecamatan Rote Selatan, Kabupaten Rote Ndao – NTT yang memberhentikan aparat desa tanpa prosedur yang tepat turut melibatkan pemerintah kecamatan Rote Selatan.

Pemerintah Kecamatan Rote Selatan disinyalir menerbitkan rekomendasi pemberhentian aparat desa tanpa melakukan cross check langsung ke desa, tapi hanya berdasarkan permohonan yang diajukan oleh Kades SS yang baru menjabat selama 6 (enam) bulan, padahal tidak ada hal urgen terkait dengan pemberhentian aparat desa bernama Riki Yan.

Saat dikonfirmasi (18/8) kepada Camat Rote Selatan yang saat penerbitan rekomendasi dijabat oleh Joni Manafe, terkesan tidak ambil pusing dan menyebut hal tersebut sudah selesai.

“Kalau sudah keluar rekomendasi artinya sudah memenuhi syarat aturan,” kata Joni Manafe saat dikonfirmasi.

Jelas pernyataan mantan camat ini, tidak mengikuti prosedur sebagaimana yang diatur dalam UU Nomor 6 Tahun 2014 Pasal 5 yang menyebutkan bahwa: Pemberhentian harus diawali dengan teguran lisan dan teguran tertulis jika yang bersangkutan k). melanggar sumpah/janji jabatan; dan l). meninggalkan tugas selama 60 (enam puluh) hari kerja berturut-turut tanpa alasan yang jelas dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Baca Juga:  Polsek Rote Selatan Akan Teruskan Laporan Aksi Pembongkaran Eks Anggota DPRD

Dengan tidak melakukan cross check ke lapangan dan hanya mengikuti surat permohonan, rekomendasi pemberhentian dikeluarkan oleh pihak kecamatan. Padahal faktanya di kantor desa Daleholu pelayanan seminggu hanya ada satu atau dua orang ke kantor desa. Dan Aparat Riki Yan hanya sekali tidak masuk kantor.

Seperti diberitakan sebelumnya motif pemberhentian aparat disinyalir Diduga Karena Tidak Mau Bikin Laporan Fiktif, Aparat Desa Ini Dipecat Kadesberhembus issu jika mantan camat tersebut telah menerima ‘sesuatu’ juga dari sang Kades.

Terkait persoalan ini, berdasarkan pantauan media ini turut menjadi perhatian dari BPD Desa Daleholu. Rabu (18/8/2021) kemarin Ketua dan anggota BPD Desa Daleholu memanggil Kepala Desa dan bendahara desa Daleholu, dengan agenda mengklarifikasi aduan pemberhentian dari mantan kasi pelayanan Riki Yan.

Dalam pertemuan tersebut, terungkap fakta bahwa alasan pemecatan terkait dengan pencairan dana stunting TA 2021, sebesar Rp.22 juta-an, diperuntungkan untuk 61 penerima manfaat baik belita dan ibu hamil.

Bendaraha telah mencairkan dana tersebut dan menunggu kasi pelayanan untuk belanja dan tidak datang sehingga dirinya sebagai bendahara langsung pergi belanja.

Sementara Riki, mengatakan dana tersebut sudah dibelanjakan duluan baru memanggil dirinya untuk tanda tangan, dirinya tidak mau karena takut resiko.

Baca Juga:  Lapas Kelas III Ba'a Rote Ndao Bersih dari Narkoba

Sementara kepala desa mengatakan hal yang sama, bahwa ia memberhetikan karena Riki Yan yang menjabat sebagai kasi pelayanan tidak masuk kantor untuk membelanjakan dana tersebut, dan pemberhentian dari kasi karena ada rekomendasi dari kecamatan.

Sementara Riki Yan, ditemui terpisah mengatakan pemberhentian dirinya karena kepala desa memanggilnya untuk merahasiakan pembelanjaan stunting dan meminta untuk tanda tangan dan dijanjikan akan memberikan uang kelebihan asalkan jangan diberitahukan ke orang luar.

Karena riki menolak kades mengeluarkan SK pemberhentian terhitung sejak 31 juli 2021, Namun aneh, dirinya baru menerima SK pemberhentian 12 Agustus 2021.

Sehingga keanehan tersebut terbukti untuk memperkaya bendahara dan kades, sementara camat tidak melakukan cross check kebenaran langsung mengeluarkan surat.

Ketua BPD, Yusak Paulus mengaku kesal dengan tindakan kepala desa, semestinya memberhentikan perangkat desa harus sesuai prosedur, bukan karena tidak suka orang, semestinya kades hanya beri sangsi bukan pecat, karena baru dilantik 6 bulan tidak ada hal yang urgensi yang dikerjakan pemerintah desa. (Dance henukh)

COMMENTS

WORDPRESS: 1
DISQUS: 0