HomeInternasionalTimur Tengah

Terkait Agresi AS ke Suriah, Inggris: Rusia Harus Bertanggung Jawab

Terkait Agresi AS ke Suriah, Inggris: Rusia Harus Bertanggung Jawab

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Serangan rudal tomahawk yang ditembakkan oleh kapal perang Amerika Serikat (AS) berhasil menghancurkan 9 pesawat tempur milik Suriah. Sejumlah korban pun berjatuhan. Bahkan anak-anak tak berdosa ikut tewas dalam agresi militer AS kali ini.

Peristiwa besar tersebut jelas harus dipertanggungjawabkan. Sebab itu tak hanya melanggar hukum internasional, melainkan juga melanggar kemanusiaan berupa hak asasi manusia (HAM).

Lantas siapa yang harus bertanggung jawab dalam hal ini?

Menurut Menteri Pertahanan Inggris Michael Fallon, yang bertanggung jawab besar tak lain adalah sekutu Suriah sendiri, yakni Rusia. Hal ini, bagi Fallon, mesti dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab Rusia terhadap warga Suriah, sekaligus juga kepada dunia internasional.

“Pendukung utama Assad (Presiden Suriah) adalah Rusia. Dengan proxy Rusia bertanggung jawab atas setiap kematian warga sipil pekan lalu,” ujar Fallon dalam wawancaranya, Minggu (9/4/2017).

Jika Rusia mengambil tanggung jawab tersebut, lanjut Fallon, maka ia akan terbebas dari tanggung jawab untuk setiap serangan atas Suriah di masa depan.

“Vladimir Putin (Presiden Rusia) perlu untuk menegakkan komitmen demi nama kebaikan untuk membongkar gudang senjata kimia Assad), dan untuk sepenuhnya terlibat dengan kemajuan penjaga perdamaian PBB,” lanjutnya tegas.

Untuk itu, imbuhnya kembali, sudah saatnya Rusia menjadi bagian dari solusi dan terlibat secara konstruktif dalam pembicaraan perdamaian yang dimediasi oleh PBB. Hal ini akan mempermudah upaya untuk mencari solusi damai di Suriah.

“Kami dapat mengakhiri penderitaan rakyat Suriah, tetapi hanya jika Moskow mendapat pesan kuat dari serangan yang berlangsung pada Kamis (6/4/2017) malam,” tambah Fallon merujuk serangan yang dilancarkan AS ke Suriah beberapa waktu lalu.

Di samping itu, kini Suriah juga butuh pemerintahan di mana Bashar al-Assad sebagai pemimpin tidak lagi memainkan peran secara berlebihan.

“Untuk mencapai itu tidak mudah, tetapi bukan tidak mungkin. Assad harus lengser dan pencarian stabilitas dimulai,” tegasnya. (ms)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: