HomeSosmed

Terlalu Provokatif Di Dunia Maya Cirikan Seorang Psikopat, Sadisme dan Machiavellianis

Terlalu Provokatif Di Dunia Maya Cirikan Seorang Psikopat, Sadisme dan Machiavellianis

JAKARTA, SUARADEWAN.com – Pernah kesal ketika mendapat komentar pedas bernada sinis di Facebook, Twitter, Instagram, atau di portal internet dan jejaring sosial media lainnya? Tentunya orang yang melakukan tersebut bisa kita Trolling. Pelaku trolling disebut troller.

Menurut penelitian, troll atau orang yang provoaktif di internet cenderung tunjukkan tanda pengidap psikopat, sadisme, dan machiavellianis.

Didunia maya, ada banyak sekali troller-troller bertebaran di berbagai website, sebagian troller yang bertindak anonim (tidak diketahui identitasnya), biasanya troller tidak mempunyai motivasi khusus ketika melakukan trolling, mereka hanya melakukan ini sebagai kesenangan dan bentuk ketidaksukaan mereka terhadap sesuatu.

Sebagian lagi malah ada orang yang kita kenal pernah melakukan trolling dengan tujuan tertentu; bercanda atau mencari perhatian.

Menurut studi yang dilakukan oleh tiga psikolog asal Kanada, Erin Buckels, Paul Trapnell, dan Delroy Paulhus, seorang Troll atau orang yang gemar melontarkan argumen menjengkelkan di dunia maya, cenderung menunjukkan tanda-tanda sebagai seorang psikopat, sadisme, dan machiavellianism.

Seperti dikutip dari Time, seorang Troll yang diduga mengidap ketiga gangguan mental tersebut akan mempunyai kesempatan lebih banyak memiliki ciri kepribadian “Dark Tread”. Orang dengan kepribadian tersebut cenderung akan menjadi individu dengan tipikal karakter yang sadis dan emosional serta licik terlebih saat berada di dunia maya.

Baca Juga:  Lambat Atasi Info Hoax Pemerintah Dinilai Gagal

Buckels dan kedua peneliti lainnya menyakini faktor anonimitas di dunia maya menyebabkan orang bisa berubah menjadi sadis, emosional maupun licik. Faktor anonimitas yang berkembang di dunia maya membuat “efek rasa malu secara online” saat memperlakukan pengguna internet lainnya menjadi hilang. Orang akan cenderung semena-mena berkomentar tanpa memedulikan apakah struktur kalimat yang digunakan kurang berkenan dan dapat menyebabkan perselisihan di dunia maya.

Kendati demikian, Buckels dan kedua peneliti lainnya mengungkapkan tidak semua orang yang cukup aktif melakukan aktivitas komentar di dunia maya bisa dikategorikan sebagai seorang psikopat, sadisme, maupun machiavellianism, karena aktivitas online lainnya seperti chatting dan berdebat tidak berhubungan dengan sadisme.

Ini merupakan contoh kasus trolling:

A memasang foto terbarunya di Facebook, tiba-tiba ada yang komentar. “Wah muka kamu keren banget, photoshop ya?!”

Untuk menghadapi para troller ini ada beberapa saran yang mungkin kamu pertimbangkan:

  1. Jika kamu merasa sedang ditrolling, jangan pernah menanggapi komentar mereka, biarkan saja atau kalau kamu merasa terlalu offensif, hapus saja. Semakin ditanggapi, biasanya mereka menjadi-jadi.
  2. Kenali orang yang biasa melakukan trolling; gunakan fitur block user seperti di Facebook. Atau masukan di ignore list di web dan forum, ini tindakan yang lebih sopan dan aman karena kamu gak akan membaca komentar troll di website.
  3. Pada dasarnya, trolling berbeda dengan tindakan insult; ngetroll masih bisa ditolerir karena biasanya komentar troller terkesan lucu dan kadang korbannya sedang tidak sadar sedang di troll. Insult adalah tindakan penghinaan secara terang-terangan untuk memancing emosi netter.
  4. Siapkan mental, kadangkala troller bersikap agresif jika mereka menemukan topik yg rentan memancing tindakan trolling. Jangan terlalu bertindak terbuka di forum, dan jangan menampilkan sesuatu yang membuat diri kita terlihat bodoh dan mudah dicari kekurangannya.
  5. Kenali karakteristik pengguna sebuah website, jika lebih banyak trollernya, mending tinggalkan saja. Jangan buang umur kamu membaca komentar para troller, carilah web atau forum yg diisi user yang berinternet dengan sehat meskipun kadang masih ada user yg melakukan trolling.
  6. Jangan pernah berdebat dengan para troll, mereka merupakan orang yang berpengalaman di internet, jika ingin belajar menjadi troller, jangan pernah berpikir kalau kalau trolling adalah sesuatu yang benar-benar mengasyikkan. If you troll someone, you’ll be trolled by another one. (SM)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0