Tragedi Trisakti, Penggunaan Peluru Tajam Yang Tak Diakui

Tragedi Trisakti termasuk dalam 12 peristiwa pelanggaran HAM berat dan merupakan luka lama yang tak kunjung sembuh dalam sejarah Indonesia. Terlihat para mahasiswa mendaki Gedung Nusantara untuk menuntut Soeharto turun jabatan. (Foto: Istimewa)

SUARADEWAN.com – Peristiwa penembakan mahasiswa Trisakti pada 12 Mei 1998, beserta peristiwa Semanggi 1 dan 2 pada tahun 1998-1999 diakui Presiden Jokowi sebagai salah satu dari 12 peristiwa pelanggaran HAM berat.

Kejadian ini dinamakan Tragedi Trisakti karena pada momen tersebut terdapat empat mahasiswa Trisakti yang tewas tertembak di dalam kampus.

Saat itu kericuhan terjadi karena kekejaman aparat dalam meredam aksi demonstrasi para aktivis yang menuntut turunnya Soeharto sebagai presiden.

Demonstrasi besar-besaran terjadi saat itu, karena krisis moneter yang dinilai berakar dari kolusi, korupsi, dan nepotisme dalam pemerintahan Orde Baru.

Baca Juga: Putin: 20 Tahun AS di Afghanistan Hanya Bawa Tragedi

Aksi semakin terbuka pasca Sidang Umum MPR pada 10 Maret 1998 yang mengangkat Soeharto kembali menjadi presiden RI.

Kronologi peristiwa Trisakti berawal dari aksi demonstrasi besar-besaran para mahasiswa pada 12 mei 1998 ke Gedung Nusantara, Jakarta. Para mahasiswa tersebut, termasuk mahasiswa Trisakti, melakukak aksi damai pada pukul 12.30.

Dalam perjalanannya, pihak kepolisian dan disusul oleh militer datang untuk menghalangi. Beberapa perwakilan mahasiswa kemudian bernegosiasi dengan polisi agar dapat melanjutkan aksi mereka.

Pada pukul 17.15 WIB, mahasiswa bergerak mundur. Hal itu diikuti dengan aparat keamanan yang bergerak maju.

Aparat keamanan kemudian memukul mundur mahasiswa dengan menembakkan peluru. Spontan mahasiswa-mahasiswa tersebut tercerai-berai dan ada yang berlindung di dalam kampus Universitas Trisakti.

Baca Juga: Kediaman Anggota DPR RI Jazuli Juwaini Diduga Jadi Sasaran Peluru Nyasar

Aparat ternyata terus memberondong mahasiswa yang berlarian. Korban-korban berjatuhan dan segera dilarikan ke RS Sumber Waras.

Tembakan aparat keamanan bukan hanya berasal dari depan mahasiswa, tetapi juga dari fly over Grogol dan jembatan penyeberangan.

Yang ditembakkan oleh aparat tersebut tidak hanya peluru karet, tetapi juga peluru tajam. Berondongan peluru tajam itulah yang berhasil merubuhkan enam mahasiswa hingga meninggal.

Bahkan, salah satu peluru ditengarai sebagai peluru kaliber 5,56mm.

Rektor Universitas Trisakti, Prof Dr Moedanton Moertedjo, mengatakan pada 13 Mei 1998, bahwa terdapat 6 mahasiswa yang gugur. Empat di antaranya adalah mahasiswa Trisakti. Mereka adalah Elang Mulia Lesmana, Hafidi Alifidin, Heri Heriyanto, Hendriawan. Sedangkan mahasiswa dari kampus lain yang tewas bernama vero dan Alan Mulyadi.

Di samping itu puluhan mahasiswa lainnya menderita luka berat dan ringan.

Dalam penyelidikan dan laporan dari ABRI dan Kapolri, peluru-peluru tajam tersebut disangkal penggunaannya oleh Kapolri dan ABRI.

Kapolda Metro Jaya Hamami Nata mengatakan pihaknya hanya menggunakan tongkat pemukul, peluru kosong, peluru karet, dan gas air mata.

Hingga sekarang, pelaku sebenarnya dari penembakan yang menewaskan 6 mahasiswa tersebut masih menjadi misteri.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 728x90